
Inilah wajah Gereja Sion, Jemaat GPM Adodo Molu pada bulan november 2025. Gereja yang sudah berusia sekitar 35 tahun ini (sejak diresmikan tahun 1991) tampak sudah mengalami banyak kerusakan. Posisi gereja yang berdekatan dengan laut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak sekali kerusakan. Angin kencang yang muncul pada musim barat dan timur selama bertahun-tahun menghantam gereja ini tanpa ampun. Atap gereja pun rusak akibat penguapan air laut. Dinding gereja yang kokoh sejak dibangun pun pada akhirnya sudah tak mampu lagi menahan beban. Keretakan muncul di berbagai bagian luar dan dalam gereja, termasuk tiang penyangga balkon, sehingga jemaat sudah tidak berani lagi untuk duduk di balkon pada saat ibadah atau kegiatan gerejawi berlangsung.

Teras depan gereja mengalami rusak berat. Mulai dari plafon yang sudah bergelantungan akibat basah waktu demi waktu. Atap yang sudah bocor mengakibatkan kayu-kayu membusuk dan plafon yang berbahan triplek mudah rusak, akibatnya kebocoran terjadi di banyak titik. Hal ini pun terjadi pada kedua teras samping gereja yang mengalami beban kerusakan yang sama. Bahan-bahan kayu yang kuat sekalipun memang tidak dapat bertahan lama jika setiap tahun dibasahi air hujan secara berkala.

Plafon samping kiri kanan gereja yang sudah berlubang ini menjadi jalan masuk keluar bagi kelelawar yang bermarkas di plafon bagian dalam gereja. Jika tidak segera diperbaiki dan ditutup, maka plafon ini agak gugur ketika datang musim angin yang kencang.

Plafon bagian dalam gereja pun mengalami banyak kerusakan. Atap yang bocor menjadi salah satu faktor semakin cepat kerusakan plafon. Banyak triplek yang sudah megelupas dan bergelantungan di dalam gereja. Kalau hujan, ada beberapa titik kebocoran. Burung-burung pipit yang menetap di gereja senang sekali untuk bertengger di plafon yang mulai rusak. Kulit-kulit plafon dijadikan sarang bagi pasangan burung pipit.

Plafon bagian belakang gereja pun mengalami rusak berat. Beberapa kursi sering basah akibat air hujan yang langsung jatuh ke bawah sebab atap dan plafon sudah bocor. Akibatnya, jemaat tidak bisa duduk di bagian belakang pada saat hujan. Plafon rusak ini, seringkali menjadi jalan masuk keluar kucing liar yang berburu tikus pada malam hari di loteng gereja.

Kerusakan-kerusakan ini semakin parah disebabkan tidak ada perawatan gereja yang serius selama beberapa tahun, sehingga kerusakan yang awalnya kecil lama-lama membesar. Tentu Gereja Sion mesti segera diperbaiki sebisanya agar umat dapat beribadah dengan tenang dan nyaman. Benar bahwa, Gereja Sion akan dibongkar untuk membangun gedung gereja yang baru, namun sebelum adanya gedung gereja darurat, jemaat masih beribadah di gereja ini, sehingga rasanya tidak etis, jika jemaat terus beribadah di gereja yang rusak. Sebulan lagi perayaan Natal Kristus dan Tahun Baru akan dimaknai oleh umat dan memperbaiki gereja ini adalah hal wajib yang menjadi tanggung jawab bersama.

Tidak mungkin kita merayakan Natal – Tahun Baru dengan kondisi gereja yang dipenuhi kelelawar dan kotoran-kotoran kelelawar yang menumpuk di loteng bahkan sering. jatuh ke dalam gereja seperti ini. Akan tetapi, merenovasi Gereja Sion pun memerlukan biaya yang tidak sedikit. Jika dilakukan renovasi untuk semua kerusakan, diperlukan biaya sekitar 150 – 200 juta, sementara kondisi keuangan gereja di bulan november 2025 terbilang tidak baik-baik saja.

Sambil diliputi kekuatiran menghadapi angin kencang bulan november sampai januari (kadang februari), Gereja Sion harus segera direnovasi. Kaca-kaca yang pecah, jendela yang ditutupi dengan triplek tentu tidak akan bertahan lama dihantam angin bertubi-tubi. Sambil menunggu dilakukannya pembangunan gedung gereja darurat, Gereja Sion masih akan terus dipergunakan sebagai tempat peribadahan.

Sewaktu serah terima jabatan berlangsung dan saya duduk di ruang konsistori, saya merenung, memikirkan cara untuk segera bergerak bersama jemaat demi merenovasi gereja ini. Toga saya dan istri (pendeta jemaat) dipenuhi bubuk kayu yang gugur perlahan dari plafon. Air mata kami jatuh dalam diam. Dalam hati, kami sepakat, “Gereja Sion harus direnovasi, minggu depan.”

Setelah sertijab selesai dilakukan, kami berembuk sebagai pendeta dan sebagai MJ. Kami berdiskusi untuk menemukan jalan demi merenovasi gedung gereja. Berbagai pilihan justru tidak bisa menjadi pilihan ketika waktu kian mendesak dan kerusakan sudah terlanjur parah setiap harinya. Dalam hening, kami bergumul sambil mencari jalan sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk, “Kumpulkan donasi seikhlasnya, sebagai bentuk nyata dari tindakan baku bantu sebagai umat Tuhan, lintas daerah, lintas negara.”
